Keadaan Arab Sebelum dan Sesudah Masuknya Islam


ARAB PRA ISLAM DAN MASA NABI

A.    Arab Pra Islam
Ditilik dari silsilah keturunan dan cikal bakalnya, para sejarawan membagi kaum-kaum Bangsa Arab menjadi Tiga bagian, yaitu :
1.      Arab Ba’idah, yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sejarahnya tidak bisa dilacak secara rinci dan komplit. Seperti Ad, Tsamud, Thasn, Judais, Amlaq dan lain-lainnya.
2.      Arab Aribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula Arab Qahthaniyah.
3.      Arab Musta’ribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma’il, yang disebut pula Arab Adnaniyah.

a.      Sistem Politik Dan Kemasyarakatan
1.      Kondisi Politik
Bangsa Arab sebelum islam, hidup bersuku-suku (kabilah-kabilah) dan berdiri sendiri-sendiri. Satu sama lain kadang-kadang saling bermusuhan. Mereka tidak mengenal rasa ikatan nasional. Yang ada pada mereka hanyalah ikatan kabilah. Dasar hubungan dalam kabilah itu ialah pertalian darah. Rasa asyabiyah (kesukuan) amat kuat dan mendalam pada mereka, sehingga bila mana terjadi salah seorang di antara mereka teraniaya maka seluruh anggota-anggota kabilah itu akan bangkit membelanya. Semboyan mereka “ Tolong saudaramu, baik dia menganiaya atau dianiaya “.

Pada hakikatnya kabilah-kabilah ini mempunyai pemuka-pemuka yang memimpin kabilahnya masing-masing. Kabilah adalah sebuah pemerintahan kecil yang asas eksistensi politiknya adalah kesatuan fanatisme, adanya manfaat secara timbal balik untuk menjaga daerah dan menghadang musuh dari luar kabilah.

Kedudukan pemimpin kabilah ditengah kaumnya, seperti halnya seorang raja. Anggota kabilah harus mentaati pendapat atau keputusan pemimpin kabilah. Baik itu seruan damai ataupun perang. Dia mempunyai kewenangan hukum dan otoritas pendapat, seperti layaknya pemimpin dictator yang perkasa. Sehingga adakalanya jika seorang pemimpin murka, sekian ribu mata pedang ikut bicara, tanpa perlu bertanya apa yang membuat pemimpin kabilah itu murka.

Kekuasaan yang berlaku saat itu adalah system dictator. Banyak hak yang terabaikan. Rakyat bisa diumpamakan sebagai ladang yang harus mendatangkan hasil dan memberikan pendapatan bagi pemerintah. Lalu para pemimpin menggunakan kekayaan itu untuk foya-foya mengumbar syahwat, bersenang-senang, memenuhi kesenangan dan kesewenangannya. Sedangkan rakyat dengan kebutaan semakin terpuruk dan dilingkupi kezhaliman dari segala sisi. Rakyat hanya bisa merintih dan mengeluh, ditekan dan mendapatkan penyiksaan dengan sikap harus diam, tanpa mengadakan perlawanan sedikitpun.

Kadang persaingan untuk mendapatkan kursi pemimpin yang memakai sistem keturunan paman kerap membuat mereka bersikap lemah lembut, manis dihadapan orang banyak, seperti bermurah hati, menjamu tamu, menjaga kehormatan, memperlihatkan keberanian, membela diri dari serangan orang lain, hingga tak jarang mereka mencari-cari orang yang siap memberikan sanjungan dan pujian tatkala berada dihadapan orang banyak, terlebih lagi para penyair yang memang menjadi penyambung lidah setiap kabilah pada masa itu, hingga kedudukan para penyair itu sama dengan kedudukan orang-orang yang sedang bersaing mencari simpati.


2.      Kondisi Masyarakat
Dikalangan Bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat. Yang kondisinya berbeda antara yang satu dengan yang lain. Hubungan seorang keluarga dikalangan bangsawan sangat diunggulkan dan diprioritaskan, dihormati dan dijaga sekalipun harus dengan pedang yang terhunus dan darah yang tertumpah. Jika seorang ingin dipuji dan menjadi terpandang dimata bangsa Arab karena kemuliaan dan keberaniannya, maka dia harus banyak dibicarakan kaum wanita.

Karena jika seorang wanita menghendaki, maka dia bisa mengumpulkan beberapa kabilah untuk suatu perdamaian, dan jika wanita itu mau maka dia bisa menyulutkan api peperangan dan pertempuran diantara mereka. Sekalipun begitu, seorang laki-laki tetap dianggap sebagai pemimpin ditengah keluarga, yang tidak boleh dibantah dan setiap perkataannya harus dituruti. Hubungan laki-laki dan wanita harus melalui persetujuan wali wanita.

Begitulah gambaran secara ringkas kelas masyarakat bangsawan, sedangkan kelas masyarakat lainnya beraneka ragam dan mempunyai kebebasan hubungan antara laki-laki dan wanita.

Para wanita dan laki-laki begitu bebas bergaul, malah untuk berhubungan yang lebih dalam pun tidak ada batasan. Yang lebih parah lagi, wanita bisa bercampur dengan lima orang atau lebih laki-laki sekaligus. Hal itu dinamakan hubungan poliandri. Perzinahan mewarnai setiap lapisan masyarakat. Semasa itu, perzinahan tidak dianggap aib yang mengotori keturunan.

Banyak hubungan antara wanita dan laki-laki yang diluar kewajaran, seperti :
1.      Pernikahan secara spontan, seorang laki-laki mengajukan lamaran kepada laki-laki lain yang menjadi wali wanita, lalu dia bisa menikahinya setelah menyerahkan mas kawin seketika itu pula.
2.      Para laki-laki bisa mendatangi wanita sekehendak hatinya. Yang disebut wanita pelacur.
3.      Pernikahan Istibdha’, seorang laki-laki menyuruh istrinya bercampur kepada laki-laki lain hingga mendapat kejelasan bahwa istrinya hamil. Lalu sang suami mengambil istrinya kembali bila menghendaki, karena sang suami menghendaki kelahiran seorang anak yang pintar dan baik.
4.      Laki-laki dan wanita bisa saling berhimpun dalam berbagai medan peperangan. Untuk pihak yang menang, bisa menawan wanita dari pihak yang kalah dan menghalalkannya menurut kemauannya.

Banyak lagi hal-hal yang menyangkut hubungan wanita dengan laki-laki yang diluar kewajaran. Diantara kebiasaan yang sudah dikenal akrab pada masa jahiliyah ialah poligami tanpa da batasan maksimal, berapapun banyaknya istri yang dikehendaki. Bahkan mereka bisa menikahi janda bapaknya, entah karena dicerai atau karena ditinggal mati. Hak perceraian ada ditangan kaum laki-laki tanpa ada batasannya.

Perzinahan mewarnai setiap lapisan mayarakat, tidak hanya terjadi di lapisan tertentu atau golongan tertentu. Kecuali hanya sebagian kecil dari kaum laki-laki dan wanita yang memang masih memiliki keagungan jiwa.

Ada pula kebiasaan diantara mereka yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena takut aib dan karena kemunafikan. Atau ada juga yang membunuh anak laki-lakinya, karena takut miskin dan lapar. Disini kami tidak bisa menggambarkannya secara detail kecuali dengan ungkapan-ungkapan yang keji, buruk, dan menjijikkan.

Secara garis besar, kondisi masyarakat mereka bisa dikatakan lemah dan buta. Kebodohan mewarnai segala aspek kehidupan, khurafat tidak bisa dilepaskan, manusia hidup layaknya binatang. Wanita diperjual-belikan dan kadang-kadang diperlakukan layaknya benda mati. Hubungan ditengah umat sangat rapuh dan gudang-gudang pemegang kekuasaan dipenuhi kekayaan yang berasal dari rakyat, atau sesekali rakyat dibutuhkan untuk menghadang serangan musuh.


b.      Sistem Kepercayaan Dan Kebudayaan
Kepercayaan bangsa Arab sebelum lahirnya Islam, mayoritas mengikuti dakwah Isma’il Alaihis-Salam, yaitu menyeru kepada agama bapaknya Ibrahim Alaihis-Salam yang intinya menyeru menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan memeluk agama-Nya.
    
Waktu terus bergulir sekian lama, hingga banyak diantara mereka yang melalaikan ajaran yang pernah disampaikan kepada mereka. Sekalipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim, hingga muncul Amr Bin Luhay, (Pemimpin Bani Khuza’ah). Dia tumbuh sebagai orang yang dikenal baik, mengeluarkan shadaqah dan respek terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan hampir-hampir mereka menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang disegani.

Kemudian Amr Bin Luhay mengadakan perjalanan ke Syam. Disana dia melihat penduduk Syam menyembah berhala. Ia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik dan benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para Rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil membawa HUBAL dan meletakkannya di Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk membuat persekutuan terhadap Allah. Orang orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk Mekkah, karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk tanah suci.

Pada saat itu, ada tiga berhala yang paling besar yang ditempatkan mereka ditempat-tempat tertentu, seperti :
1.      Manat, mereka tempatkan di Musyallal ditepi laut merah dekat Qudaid.
2.      Lata, mereka tempatkan di Tha’if.
3.      Uzza, mereka tempatkan di Wady Nakhlah.

Setelah itu, kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran disetiap tempat di Hijaz. Yang menjadi fenomena terbesar dari kemusyrikan bangsa Arab kala itu yakni mereka menganggap dirinya berada pada agama Ibrahim.

Ada beberapa contoh tradisi dan penyembahan berhala yang mereka lakukan, seperti :
1.      Mereka mengelilingi berhala dan mendatanginya, berkomat-kamit dihadapannya, meminta pertolongan tatkala kesulitan, berdo’a untuk memenuhi kebutuhan, dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu bisa memberikan syafaat disisi Allah dan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.
2.      Mereka menunaikan Haji dan Thawaf disekeliling berhala, merunduk dan bersujud dihadapannya.
3.      Mereka mengorbankan hewan sembelihan demi berhala dan menyebut namanya.

Banyak lagi tradisi penyembahan yang mereka lakukan terhadap berhala-berhalanya, berbagai macam yang mereka perbuat demi keyakinan mereka pada saat itu.

Bangsa Arab berbuat seperti itu terhadap berhala-berhalanya, dengan disertai keyakinan bahwa hal itu bisa mendekatkan mereka kepada Allah dan menghubungkan mereka kepada-Nya, serta memberikan manfaat di sisi-Nya.

Selain itu, Orang-orang Arab juga mempercayai dengan pengundian nasib dengan anak panah dihadapan berhala Hubal. Mereka juga percaya kepada perkataan Peramal, Orang Pintar dan Ahli Nujum.

Dikalangan mereka ada juga yang percaya dengan Ramalan Nasib Sial dengan sesuatu. Ada juga diantara mereka yang percaya bahwa orang yang mati terbunuh, jiwanya tidak tentram jika dendamnya belum dibalaskan, ruh nya bisa menjadi burung hantu yang berterbangan di padang seraya berkata,”Berilah aku minum, berilah aku minum”!jika dendamnya sudah dibalaskan, maka ruh nya akan menjadi tentram.

Sekalipun masyarakat Arab jahiliyah seperti itu, toh masih ada sisa-sisa dari agama Ibrahim dan mereka sama sekali tidak meninggalkannya, seperti pengagungan terhadap ka’bah, thawaf disekelilingnya, haji, umrah, Wufuq di Arafah dan Muzdalifah. Memang ada hal-hal baru dalam pelaksanaannya.

Semua gambaran agama dan kebiasaan ini adalah syirik dan penyembahan terhadap berhala menjadi kegiatan sehari-hari, keyakinan terhadap hayalan dan khurafat selalu menyelimuti kehidupan mereka. Begitulah agama dan kebiasaan mayoritas bangsa Arab masa itu. Sementara sebelum itu sudah ada agama Yahudi, Masehi, Majusi, dan Shabi’ah yang masuk kedalam masyarakat Arab. Tetapi itu hanya sebagian kecil oleh penduduk Arab. Karena kemusyrikan dan penyesatan aqidah terlalu berkembang pesat.

Itulah agama-agama dan tradisi yang ada pada saat detik-detik kedatangan islam. Namun agama-agama itu sudah banyak disusupi penyimpangan dan hal-hal yang merusak. Orang-orang musyrik yang mengaku pada agama Ibrahim, justru keadaannya jauh sama sekali dari perintah dan larangan syari’at Ibrahim. Mereka mengabaikan tuntunan-tuntunan tentang akhlak yang mulia. Kedurhakaan mereka tak terhitung banyaknya, dan seiring dengan perjalanan waktu, mereka berubah menjadi para paganis (penyembah berhala), dengan tradisi dan kebiasaan yang menggambarakan berbagai macam khurafat dalam kehidupan agama, kemudian mengimbas kekehidupan social, politik dan agama.

Sedangkan orang-orang Yahudi, berubah menjadi orang-orang yang angkuh dan sombong. Pemimpin-pemimpin mereka menjadi sesembahan selain Allah. Para pemimpin inilah yang membuat hukum ditengah manusia dan menghisab mereka menurut kehendak yang terbetik didalam hati mereka. Ambisi mereka hanya tertuju kepada kekayaan dan kedudukan, sekalipun berakibat musnahnya agama dan menyebarnya kekufuran serta pengabaian terhadap ajaran-ajaran yang telah ditetapkan Allah kepada mereka, dan yang semua orang dianjurkan untuk mensucikannya.

Sedangkan agama Nasrani berubah menjadi agama paganisme yang sulit dipahami dan menimbulkan pencampuradukkan antara Allah dan Manusia. Kalaupun ada bangsa Arab yang memeluk agama ini, maka tidak ada pengaruh yang berarti. Karena ajaran-ajarannya jauh dari model kehidupan yang mereka jalani, dan yang tidak mungkin mereka tinggalkan.

Semua agama dan tradisi Bangsa Arab pada masa itu, keadaan para pemeluk dan masyarakatnya sama dengan keadaan orang-orang Musyrik. Musyrik hati, kepercayaan, tradisi dan kebiasaan mereka hampir serupa.

B.     Masa Nabi
a.      Fase mekah
Setelah menikah dengan khadijah, Muhammad sering berkontemplasi ke gua hira beberapa kilometer di utara mekah,disana Muhammad berjam-jam, kemudian bertafakur, ketika usianya menjelang 40 tahun. pada suatu malam tanggal 17 Ramadhan 611 M malaikat jibril muncul di hadapannya menyampaikan wahyu allah yang pertama ( surat Al – alaq : 1–5) berbunyi:

ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

Artinya : “ Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhan mu itu maha muliya, dia telah mengajar dengan “qalam”. Dia telah mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui”.

Setelah wahyu pertama turun, malaikat jibril tidak muncul lagi beberapa lama. Sementara nabi Muhammad selalu dating ke gua hirah untuk menantikannya. Dalam keadaan inilah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya sebagai berikut ( surat Al – mudatsir : 1-7) :

$pkšr'¯»tƒ ãÏoO£ßJø9$# ÇÊÈ óOè% öÉRr'sù ÇËÈ y7­/uur ÷ŽÉi9s3sù ÇÌÈ y7t/$uÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ tô_9$#ur öàf÷d$$sù ÇÎÈ Ÿwur `ãYôJs? çŽÏYõ3tGó¡n@ ÇÏÈ šÎh/tÏ9ur ÷ŽÉ9ô¹$$sù ÇÐÈ

Artinya : “ Hai orang-orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan. Hendaklan engkau besarkan tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkan perbuatan dosa dan janganlah engkau memberi ( dengan maksud memperoleh balasan ) yang lebih banya dan untuk ( memenuhi perintah ) tuhan mu bersabarlah.

 Dengan turunnya perinta-perintah itu, mulailah rosulullah berdakwah. Mula-mulai beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungan keluarga sendiri dan dikalangan rekan-rekannya. Ajaran dakwah nabi Muhammad yang paling pokok adalah keyakinan pada Allah Yang Maha Esa, orang  yang  pertama  masuk  islam  adalah   istrinya  khadijah, anaknya angkatnya, Zaid bin haritsah, sepupunya Ali bin abi thalib, dan sahabat karibnya Abubakar, lalu di sususl oleh Ummu aiman.Utsman bin Affan, Zubairi bin Awwan, Abdurrahman bin Auf, Su’ad bin Waqash dan Thalhah bin Ubaidillah.
  Setelah beberapa dakwah dilakukan secara individual dan sembunyi-sembunyi,turunlah perintah agar nabi menjalankan dakwah secra terbukan. Mula-mulai ia menyeru sahabatnya dari Bani abdul muthalib, lalu masyarakat arab secara umum. Hari demi hari pengikut nabi bertambah banyak, terutama dari kalangan lemah yang tertindas oleh sekelompok masyarakat yang kuat.

  Melihat dakwah nabi yang terang-terangan ini, pemimpin-pemimpin quraisy berusaha menghalangi.

Ahmad syalabi mengatakan bahwa ada lima faktor yang mendorong orang-orang quraisy menentang seruan islam yaitu :
1.      Mereka tidak dapat membedakanj antara kenabian dan kekuasaan,mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani abdul muthalib yang sangat mereka inginkan.
2.      Nabi Muhammad menyerukan ahak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak di setujui kaum bangsawan quraisy.
3.      Para pemimpin quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dari pembalasan di akhirat.
4.      Taqlid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurut, berakar pada bangsa arab.
5.      Pemahat dan penjual menilai islam sebagai npenghalang rezeki.

Oleh sebab itu banyak aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh kaun quraisy terhadap nabi dan pengikutnya. Sehingga pada tahun ke lima kenabiannya, beliau mengajak pengikutnya hijrah keluar mekah, mengungsi sementara waktu tepatnya menuju kota habsyah ( Ethiopia ), disinilah mereka diterima dengan baik oleh “ negus “ sang raja yang adil.

Pada tahun ke 10 kerasulannya, Rasulullah mengalami cobaan di tinggal istri tercintanya khadijah, dan sang paman Abhu Thalib karena di panggil Allah. Melihat hal ini kaum kafir Quraisy sangat senang, sebab dua orang yang mereka segani selama ini telah tiada, dan mereka dapat semena-mena terhadap nabi Muhammad SAW, tahun ini pula terjadinya pristiwa isra’ dan miraj.

 Babak baru yang sangat menentukan kemajuan umat islam adalah ketika rasulullah bertemu dengan sekelompok kecil pemuda Yatsrib yang berhaji ke makah. Pada tahun ke 12 kenabiannya pemuda yatsrib tersebut menemui nabi mereka menyatakan ikrar setia kepadaa nabi dan kembali ke negrinya sebagai juru dakwah.

Pada musim haji berikutnya, mereka datang lagi dengan jumlah 73 orang. Atas nama penduduk yatsrib mereka berjanji akan membela nabi dari segala ancaman, dan nabipun menyetujuinya.

 Suatu revolusi yang sangat besar dalam sejarah umat islam di mulai Nabi segera memerintahkan para sahabatanya untuk hijrah ke yatsrib. Dalam waktu dua bulan hamper semua kaum muslimin telah meninggalkan makah, Ali dan Abu baker hijrah paling belakang bersama nabi,karena ada upaya kafir Quraisy untuk membunuh nabi. Akhirnya nabi pun sampai di yastrib dan di sambut hangat oleh penduduk itu yang memang mengharapkan pemimpin yang adil. Sejak itu kota ini di berinama Madinatun Nabi ( kota nabi ) atau sering pula di sebut Madinatun Munawwarah ( kota yang bercahaya ) atau  kota madinah.

  Berdasarkan uraian di atas maka dapat di pahami maka posisi nabi Muhammad SAW pada saat berada di makkah belum memiliki kekuatan politik. Beliyau hanya memegang kekuasaan sebagai pemimin agama, sedangkan kekuasaan politik masi berada di tangan kafir Quraaisy. Hal ini yang menyebabkan nabi agak susah bergerak untuk melebarkan sayap dakwahnya.

b.      Fase Madinah
Pada saat nabi Muhammad datang ke Madianah masyarakatnya terbagi dalam 3 golongan yaitu :
1.      Kaum Anshor : yang merupakan penduduk asli madinah, di sebut demikian karena mereka membanu kepentingan nabi.
2.      Kaum Muhajirin : yaitu pengikut nabi yang hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mencari pelindungan.
3.      Kaum non musli : seperti pengikut agama yahudi dan penyembah berhala.

Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan Negara baru di Madinah, maka rasulullah segera meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat :

1.      Pembangunan masjid-masjid sebagai sarana mempersatukan umat muslim, musyawarah, sarana peribadatan dan pusat pemerintahan.
2.      Ukhuwah islamiyah, persaudaraan sesama muslim. Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshor, diharapkan mereka terikat dalam suatu persaudaraan berdasarkan agama bukan berdasarkan hubunga darah.
3.      Hubungan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama islam (non muslim).

Demi stabilitas masyarakat terhadap kelompokk non muslim Rasulullah mengadakan konsensus bersama yang di kenal dengan nama “ Piagam Madinah / Konstitusi Madinah “, Yang isinya : tentang kebebasan beragama bagi setiap anggota masyarakat, berkewajiban mempertahankan ke amanan negri. Setiap golongan masyarakat memilik hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan, dan rasulullah adalah kepala pemerintahan.

Umat islam di madinah mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga orang-orang mekah dan musuh-musuh islam lain nya menjadi cemas. Kecemasan ini mendorong mereka untuk menyerang kaum muslim di Madinah, sehingga peperanganpun sulit terelakkan. Tercatat beberapa peperangan yang terjadi antara kaum muslimin di Madinah dengan kaum kafir, baik suku Quraisy maupun susku-suku lain yang menentangnya islam yakni :
1.      Perang Badar : perang antara kaum muslim dengan musrik Quraisy (8 Ramadhan).
2.      Perang Uhud : terjadi pada tahun ke 3 Hijriah.
3.      Perang Khandag (parit) : dinamakan demikian karena dalam perang ini Rasulullah membuat parit sebagai salah satu strategi yang di usulkan Salma Al Farisi, terjadi pada tahun ke 5 H.

 Pada tahun ke 6 H, ketika ibadah haji sudah di syariatkan,nabi memimpin sekitar seribu kaum muslim berangkat ke mekah bukan untuk berperang tapi untuk beribadah. Namun tampaknya pemuka-pemuka Quraisy tidak menghendaki kedatangan umat islam sekalipun unutk menunaikan ibadah haji.

Menurut Fazrul Rahman, ada dua factor yang mendorong rasulullah (umat islam) untuk menguasai mekah yaitu:
-          Mekah merupakan pusat keagamaan Negara-negara Arab, dan melalui “konsolidasi” bangsa-bangsa dalam islam, islam akan dapat berkembang keluar.
-          Apabila suku Muhammad berdiri sendiri dapat ditaklukkan oleh islam, maka islam akan memperoleh sejumlah besar pendukung karena suku Quraish dengan kedudukan dan perjanjian antara suku yang dibuatnya memiliki kekuatan dan pengaruh yang besar.

Setelah sukses menaklukkan Mekah pada (tahun ke-8H) Mekah berada dalam kekuasaan Nabi. Islam kembali terlibat peperangan melawan suku “Hawazin” namun umat islam dapat memenangkan peperangan yang diberi nama perang “Hunain”. Pada tahun ke-9 H terjadi perang Tabuk. Perang ini sesungguhnya tidak terjadi, sebab musuh kaisar Heridius dari Romawi mundur sebelum bertempur karena takut melihat kekuatan perang umat islam.

Tahun ke-10H, nabi menunaikan ibadah haji ke Mekah. Rupanya ini haji Wada’ (haji perpisahan). Sebab kurang lebih tiga bulan setelah menunaikan ibadah haji ini Rasullullah SAW berpulang ke rahmatullah. Pada kesempatan haji wada’ tersebut, Nabi Muhammad SAW menyampaikan khotbah yang sangat bersejarah.

Berdasarkan uraian tentang sejarah dakwah nabi sejak dari mekah hingga madinah, maka kita simpulkan bahwa di madinah Rasulullah SAW memegang kekuasaan ganda, yyaitu sebagai kepala agama dan kepala Negara (pemerintahan). Kesatuan peran inilah yang sangat membantu kesuksesan dakwah nabi di madinah. Hal ini berbeda ketika rasullullah masih berada di Mekkah yang hanya memegang kekuasaan sebagai kepala Agama.

Hikmah yang bias dipetik dari peristiwa ini adalah sangat penting bagi umat islam untuk memiliki kekuatan secara politik. Dakwah agama saja tanpa mempertimbangkan dan memiliki kekuatan politik, mungkin saja berhasil, akan tetapi hasilnya tentu tidak mengungguli kesuksesan kelompok yang berhasil merengkuh kedua kekuatan tersebut.
SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar